Kamis, 05 Januari 2012

1000 Sandal Untuk AAL

1000 Sandal Untuk AAL
Oleh: M.A. Pamulutan
(Mantan Sekretaris II IKAS tinggal di Pangkalan Kerinci)



Sejak bergulirnya era reformasi dan terbukanya semua kran kebebasan berekspresi di semua bidang kehidupan yang --semula-- diharapkan menjadi antithesis dari segala pembatasan yang terjadi pada era sebelumnya (baca: orde baru), hingga menjelang akhir 2011 lalu Indonesia nyaris tidak pernah sepi dari aksi protes dari berbagai pihak yang tidak puas terhadap tindakan pemerintah dengan berbagai bentuknya. Mulai dari yang paling remeh temeh seperti sekedar membuat surat kaleng sampai kepada aksi yang paling ekstrim dan berbahaya seperti aksi jahit mulut, menyilet dahi, memanjat dan mencoret gedung DPR, bahkan sampai aksi “bakar diri.”
Di akhir tahun 2011 yang lalu, belum hilang dalam ingatan kita tentang adanya kasus seorang siswa SMK berusia 17 tahun bernama Aal di Palu yang didakwa jaksa melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian dan diancam dengan pidana 5 tahun penjara karena mencuri sandal jepit milik seorang polisi, kini ia tengah menjalani persidangan di PN Palu yang menyita perhatian masyarakat banyak. Kasus yang bermula pada November 2010 lalu ketika Aal bersama temannya lewat di Jalan Zebra di depan rumah kost Briptu Ahmad Rusdi (AR) Aal melihat ada sandal jepit yang kemudian menggerakkan Aal untuk mengambilnya. Selang beberapa bulan kemudian (Mei 2011), Briptu AR memanggil Aal dan temannya untuk diinterogasi. Namun selain diinterogasi, AAL juga dipukuli hingga babak belur.
Mencuatnya kasus ini di media massa kontan saja menuai reaksi pro dan kotra dari berbagai kalangan, termasuk pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan SOS Children Vilage's Indonesia. Sebagai bentuk protes terahadap kasus ini, seolah terilhami oleh gerakan “koin untuk Prita” yang pernah menggemparkan Indonesia beberapa waktu sebelumnya, mereka juga menggelar aksi serupa yang disebut gerakan “1000 sandal untuk Aal” yang konon digagas oleh Budhi Kurniawan dari SOS Children Vilage's Indonesia. Aksi yang diakui Budhi sebagai aksi spontan dari masyarakat ini dilakukan sejak 29 Desember 2011 dan berakhir 3 Januari 2012 dalam bentuk pengumpulan berbagai jenis sandal yang rencananya akan diserahkan kepada Kapolri guna membebaskan Aal tersebut ternyata menurut Budhi diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia, dari kuli bangunan, penarik becak hingga jenderal TNI.
Kembali ke Akar Masalah
Jika dikaji lebih mendalam, maka sebelum sampai kepada aksi 1000 sandal untuk Aal ini maka akan ditemukan bahwa akar masalah yang sebenarnya adalah persoalan telah terjadinya pelanggaran etika dan pelangaran hukum. Di satu sisi jika benar remaja Aal telah mencuri sandal yang tergeletak di depan rumah orang, maka ia telah melakukan dua hal sekaligus, yaitu pelanggaran moral dan pelanggaran hukum, terlebih hal itu dilakukan terhadap milik sorang polisi. Sebab jangankan seorang polisi, bahkan seorang pencuri pun tidak akan rela barangnya dicuri, sekecil apapun barangnya itu. Dalam hal ini, rasanya perlu pertimbangan untuk membenarkan tindakan yang dilakukan itu, terlebih Aal ini adalah putra harapan bangsa di masa mendatang. Karena apa jadinya jika setiap anak di Indonesia mempunyai kecenderungan yang sama seperti Aal.
Sebaliknya, sebagai korban dari kejahatan moral, pelanggaran hukum dan hak yang dilakukan Aal, “mungkin” dapat dimaklumi jika Briptu AR melakukan reaksi terhadap tindakan Aal. Namun reaksi yang terlambat (sudah lebih 5 bulan setelah kejadian) dan berlebihan dengan memukuli Aal hingga babak belur tentu juga tidak bisa dimaklumi. Karena sebagai seorang pelindung rakyat tidak sepantasnya ia melakukan tindakan kekerasan terhadap anak yang masih relative lemah. Tindakan mana selain bukan merupakan tindakan yang kesatria sekaligus juga meruoakan pelanggaran hukum (baca: UU Perlindungan Anak).
Selanjutnya jika kita tinjau kepada tindakan Jaksa memperkarakan kasus ini ke Pengadilan dengan dakwaan yang fantastis terhadap Aal, maka meskipun secara hukum tindakan jaksa itu “tidak salah” dan sesuai dengan tugasnya namun tentu akan lebih bijaksana jika turut dipertimbangkan pula hal-hal lain di luar aspek hukum an sic. Artinya, mengingat jika dilihat dari aspek barang yang dicuri hanya berupa sandal dan dilakukan oleh seorang anak yang belum tentu benar-benar nakal, maka akan lebih bajik dan bijak jika oleh jaksa yang dominus litis berkas perkaranya tidak dilimpahkan ke Pengadilan dan anak tersebut dikembalikan kepada pihak yang berkompeten untuk membina dan membimbingnya.
Lalu dari aspek kenyataan pola penegakan hukum yang terjadi di Indonesia, maka kasus ini dapat dipandang sebagai buktinya nyata kebenaran teori yang menyatakan bahwa hukum itu tak lebih dari sekedar “jaring laba-laba” yang hanya mampu menjerat serangga kecil layaknya semut, lalat dan nyamuk semata layakanya anak-anak dan masyarakat lemah lainnya. Sementara terhadap hewan hewan besar jaring tersebut akan hancur berantakan layak hukum yang bertekuk lutut di hadapan orang yang berkuasa dan kaya raya.
Solusi alternatif
Menurut penulis, gerakan “1000 sandal untuk Aal” yang telah berakhir pada selasa (3/1/12) ini menarik untuk ditelisik lebih lanjut dari berbagai aspeknya. Pertama, jika ditinjau dari aspek hukum ia merupakan tindakan yang kekanak-kanakan dan cenderung cari muka, bahkan terkategori sebagai “Pahlawan kesiangan,” sebab tindakan seperti itu tidak lebih dari sekedar ingin unjuk gigi bahwa mereka peduli. Patut dipertanyakan kemana mereka, atau apa yang mereka lakukan ketika anak itu melakukan aksi kejahatannya? Lalu apakah dengan begitu hukum dapat dikalahkan? sehingga dapat menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum; Kedua, dari aspek ekonomis aksi ini merupakan tindakan “mubazzir” karena apa guna mengumpulkan ribuan sandal yang seharus dipakai dan dipergunakan, tapi justru malah dikumpulkan lalu digunakan untuk menekan negara.
Langkah selanjutnya, menurut penulis yang sebaiknya dilakukan adalah tetap mengawal proses hukum yang telah berjalan agar sesuai dengan ketentuan hukum yang benar dengan cara memberikan pendampingan terhadap Aal agar mendapatkan keadilan hukum. Sebab, bagaimanapun keadaannya jika benar ia terbukti bersalah ia harus dihukum sesuai aturan yang berlaku baginya demi tegaknya hukum dan kemaslahatan dirinya sendiri. Di samping itu, yang mutlak dilakukan adalah memproses Briptu AR sesuai hukum yang berlaku atas kesalahanannya melakukan tindak kekerasan terhadap anak di bawah umur sesuai pasal 80 Undang-undang Perlindungan Anak. Hal ini penting agar hukum ditegakkan dan tidak ada lagi kejadian serupa, baik dilakukan oleh oknum aparat kepolisian maupun anggota masyarakat lainnya.
Terakhir, yang paling penting lagi adalah bahwa dari kasus ini dapat diambil pelajaran bagi segenap warga bangsa kejahatan dapat dilakukan siapa saja tak peduli usia dan profesi seseorang, termasuk anak-anak dan aparatur negara. Karenanya, menjadi kewajiban bagi semua warga masyarakat untuk menjaga dan membimbing mereka sebelum terlanjur menjadi tindakan yang mereka anggap biasa. Wallahu a’lam.

Sabtu, 10 Desember 2011

info bisnis anggota IKAS (lokak makan Pempek)

Satu lagi, warga IKAS Aceh buka "kafe" Pempek


Satu lagi kabar gembira bagi warga IKAS di Aceh, karena pada hari minggu tanggal 11 Desember 2011 telah di buka kafe "ASSOEY" milik wong kito yang menyajikan menu khusus ala Palembang. Kafe yang berlokasi kawasan Ulee Lheu (Lam Jamee) yang dapat dicapai hanya dalam waktu 10 menit dari pelabuhan Ulee Lheu menuju ke arah Simpang Dodik melewati Banda Sea Food (Water Boom).

Menurut pemilik Kafe Assoey Eka Karbak (Kartika Bakti) yang asli Prabumulih campur Komering, adanya kafe ini diharapkan mampu mengobati kerinduan warga IKAS untuk menikmati makanan khas Palembang seperti Pempek, Tekwan dll. dengan suasana ke-Acehan. Di samping itu diharapkan pula dapat menghimpun warga IKAS yang ingin bersantai sekalugus pula dapat menampung tenaga kerja yang ahli di bidang makanan khas Palembang yang ada di Aceh. Ke depan jika sudah banyak wong kito yang mangkal di kafe ini, maka akan disediakan menu pindang patin dan menu-menu khas Palembang lainnya kata Eka Karbak.

Eka Karbak menyatakan bahwa selain dirinya usaha ini merupakan hasil join antara dirinya dengan Jamhur yang asli orang Abdya dan tinggal lama di Banda Aceh. Oleh karena kolaborasi ini diharapkan akan menghasilkan kombinasi menu yang manampung selera Palembang dan selera Aceh dalam satu paket alias Two in One, ujarnya.

Mang Taufik selaku Pasirah IKAS yang ikut hadir  pada acara grand opening kafe tersebut menayatakan bahwa ia  menyambut baik hadirnya kafe baru ini, lebih lanjut ia mengharapkan kiranya ke depan agar dijadwalkan untuk ganti-ganti menu yang disajikan di kafe ini. Kalau pacak dijadwalke misalnyo hari minggu pindang patin,  senen pindang tulang, selaso menu lain lagi, supayo bervariasi, lanjut Taufik.

Selamat Mang Eka dan Bang Jamhur atas peresmian kafenya. semoga usahanya tetap lancar.



Pasirah bersama Sekretaris IKAS sedang menikmati pempek di kafe Assoey






Grand Opening Kafe Assoey 

berita kegiatan IKAS

Ikas Aceh gelar “IKAS ACEH DAMAI NEGERIKU Fun Bike 2001” Minggu, 11 Desember 2011

Dengan mengambil start di Blang Padang Banda Aceh, sepeda santai  yang memperebutkan puluhan hadiah senilai Puluhan juta rupiah dimulai. Jalan santai ini yang dibuka oleh Pangeran IKAS Irjen Pol. Iskandar Hasan yang didampingi Walikota Banda Aceh Mawardy Nurdin yang sekaligus juga ikut mengendarai sepeda masing-masing sebgai peserta. Selain itu sepeda santai yang diikuti lebih dari 1.500 pencinta sepeda ini juga diikuti oleh seluruh Pengurus dan warga IKAS yang dikomandoi Pasirah IKAS Mang Taufik dan Wakil Pasirah Andry Agung yang juga merupakan Ketua Panitia Pelaksana.

Tampak para peserta memacu sepeda dengan riangnya

"Kompeni Gadungan" ikut juga memeriahkan IKAS Fun bike, 
ada-ada saja ulah Komunitas Gari Awak Away ini




Dari kejauhan tampak Walikota Banda Aceh (paling kanan bertopi dan kacamata hitam)
 sedang santai mengayuh sepeda menuju finish 
didampingi Pangeran (tertutupi oleh pengendara sepeda di depannya)

 Pangeran IKAS (bertopi krem) sedang santai mengayuh sepeda menuju finish

Iring-iringan sepada peserta fun bike yang dipandu oleh seorang magician yang mengendari sepeda dengan mata tertutup berjalan menyusuri jalan-jalan protokol di jantung kota Banda Aceh dan berakhir di Stui Kupi  (eks Terminal Bus Stui) Banda Aceh. Dalam iring-iringan sepeda santai tampak beberapa sepeda antik yang dikendarai oleh orang-orang berbusana antik yang tak lain daripada anggota “Gari Awak Away” sebuah komunitas pencinta sepeda di Banda Aceh yang ikut ambil peran penting dalam even ini. Tak hanya itu di antara peserta terdapat pula beberapa orang “bule” yang tak ketinggalan ikut megayuh sepedanya.




Ket: Penampilan unik para aktivis Gari Awak Away (GAA) Banda Aceh

Dikatakan oleh Ketua Komunitas Gari Awak Away, Darmawan, bahwa beliau menyambut baik kegiatan sepeda santai ini mengingat bagi mereka yang selama ini memang sudah tidak asing lagi dengan kegiatan sepeda santai berkeliling kota Banda Aceh acara semacam ini turut menghadirkan perasaaan bangga untuk mereka karena paling tidak dengan animo ribuan peserta yang mengikuti even ini menunujkkan bahwa masih banyak warga masyarakat yang gemar dan mencintai oleh raga sepeda. Iia berharap aka nada even-even semacam ini pada masa yang akan datang. Darmawan yang saat ini masih aktif sebagai PNS di Dinas Pendidikan ini menambahkan bahwa dalam waktu dekat Gari Awak Away akan menggelar  even yang serupa khusus untuk penggila sepeda ontel se Aceh yang selanjutnya akan direncanakan untuk mengumpulkan para “onthelis” se Indonesia dalan even seperti ini yang digelar di Banda Aceh.

Selanjutnya setibanya para peserta di finish, para peserta disuguhi aneka makanan gratis berupa kue-kue dan tek ketinggalan tentunya jamuan penganan khas Palembang yakni  “pempek” yang  langsung diserbu oleh para peserta. Usai  menikmati makanan dan dihibur oleh salah satu band di Banda Aceh Acara dilanjutkan dengan  pembagian doorprize yang diawali sambutan Pangeran IKAS dan Walikota Banda Aceh sekaligus membuka penutup mata yang dipakai oleh magician yang memandu para peserta menjalani rute sepeda santai ini.




Ket: Pangeran IKAS dan Walikota sedang bersantai sejenak usai tiba di Finish (Seutui Kupie Atjeh) 

Dalam sambutannya, Pangeran IKAS menegaskan bahwa adanya even sepeda santai yang digelar oleh Komunitas Warga Sumbagsel (Sum-Sel, Lampung, Jambi, Bengkulu dan Bangka Belitung) yang tergabung dalam wadah IKAS ini merupakan salah satu wujud nyata upaya warga IKAS untuk membuktikan semangat  persaudaraan dan kebersama antara warga IKAS dengan sesama masyarakat Banda Aceh. Selain itu even ini juga ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Aceh saat sudah benar-benar damai dan aman, ujarnya.  Dalam even ini juga Panitia menyediakan hadiah berupa sedan motor, sepeda televisi, kulkas, handphone dan masih banyak lagi yang  lain. “Bagi yang mendapat hadiah kulkas atau tv maka tidak boleh dibawa dengan mobil, melainkan harus dbawa dengan sepeda, selorohnya.  Sebagai bentuk apresiasi IKAS untuk para peserta sepeda santai, Pangeran juga memeperkenalkan menu baru kegemaran IKAS yakni “Kopi Durian” yang pada hari ini  akan diberikan secara cuma-cuma kepada para peserta sepeda santai.

Di kesempatan yang sama, Walikota Banda Aceh dalam sambutannya juga menambahkan bahwa beliau menyambut baik even ini dan mengucapkan terikasih kepada IKAS dan para sponsor yang telah ikut berpartisipasi. Karena ia menilai bahwa even sepada santai ini turut mendukung program pemerintah Kota Banda Aceh yang saat ini menggalakkan “visit Banda Aceh Year” (tahun kunjungan Banda Aceh) sebagai bandar wisata Islami. Selain itu, “bersepada juga dapat menyehatkan dan dalam tubuh yang sehat akan teradapat jiwa yang sehat, atau sebagaimana ada ungkapan kuno yang mengatakan Men Sana In Karpore Sano, pungkasnya.







Dalam suasana pembagian doorprize di bawah guyuran hujan gerimis yang membasahi panggung, para peserta tetap antusias menantikan apakah nomor undian mereka penjadi pemenang doooprrize. Hal ini dikarenakan hadiah-hadiah menarik masih menantikan mereka, ujar Ketua Panitia Andry Agung yang didampingi sekretaris panitia AKBP Dicki Sondany. Puncak acara pembagian doorprize berupa TV yang undiannya ditarik oleh Kapoltabes Banda Aceh, Dispenser yang ditarik oleh Walikota Banda Aceh dan Sepeda Motor yang ditarik oleh Pangeran IKAS.






Dengan penuh harap-harap cemas para peserta menantikan Pangaran membacakan nomor yang menajadi pemenang sepeda motor. Sesaat setelah Pangeran menyebutkan bahwa nomor undian yang dipegangnya menjadi pemenang sepeda motor gadis bernama Leoni langsung melompat kegirangan dan berlari menuju panggung. Untuk beberapa saat terjadi dialog yang mengharukan dan menggelikan antara Pangeran dan Lioni yang membuat para peserta yang hadir tertawa senang, berikut dialognya:

Pangeran (P): Bagaimana perasaan adik menerima hadiah ini?
Lioni (L): Saya senang sekali pak
P: Sudah punya sepeda motor
L: Belum pak,saya cuma naik sepeda aja
P: Udah punya SIM belum?
L: Belum pak.
P: Kalau begitu,  karena tidak punya SIM ya  adik tidak boleh dapat hadiah motor, gimana?
L: Janganlah Pak.
(Penonton Tertawa)
P: Oke kalau begitu nanti setelah ini (dapat sepeda motor) langsung segera buat SIM ya?, lapor saja ke Pak
    Kapoltabes 
(Lioni cuma tersenyum dan Penonton ikut tertawa)
P: Udah punya KTP
L: Udah pak,
P: Wah pak wali, udah punya KTP dia sebab kalau nggak punya KTP berarti bukan warga Banda Aceh.
(Pak walikota tersenyum dan penonton tertawa).

Lioni berlari girang menuju panggung sambil mengacungkan kupon undiannya

Ups.... saking senangnya nyaris saja Lioni terpeleset di depan panggung

Pangeran IKAS berdialog akrab dengan Lioni sebalum menyerahkan hadiah utama 

Pangeran IKAS dan Lioni mengangkat Replika kunci sepeda motor usai pemberian hadiah

    Foto bersama Pangeran, Walikota Banda Aceh, Kapoltabes Banda Aceh, Pasirah IKAS
Panitia (PP. Adry Agung, Dicky Sondany  dan  Ilham Reza Fahlevi) 
dan Pemenang hadiah sepeda motor (Lioni)   


Senin, 07 November 2011

Publikasi Hasil Rapat Pengurus

NOTULEN RAPAT PENGURUS IKAS
MEMBAHAS PERSIAPAN ACARA SILATURRAHMI IDUL  ADHA 1432 H.
DAN KEGIATAN FUN BIKE ACEH DAMAI TAHUN 2011
===========================================================

Agenda                      : Persiapan Acara Silaturrahmi Penghulu, Pangeran, Pengurus dan 
              Warga  IKAS dalam  rangka merayakan idul adha 1432 H.
Peserta rapat            : Taufik Rachman (Pasirah),  Andri Agung (Wakil Pasirah) 
            M. Arqom (Sekretaris II), Ahmad Fikri (Humas), I
            lham Reza Fahlevi (Sek. Divisi SDM),  Asep Febriansyah (Koordinator 
            Divisi Perlengkapan) dan Hartedi (Pengurus).
Pimpinan rapat        : Pasirah
Notulis                       : Sekretaris
Tempat                      : Sekretariat IKAS
Waktu                        : Malam Selasa (7 November 2011)

Pembahasan Rapat :

Rapat dibuka yang diawali dengan pemaparan agenda rapat oleh Pesirah melalui Humas. Selanjutnya rapa mulai membahas agenda rapat, dengan hasil-hasil sebagai berikut:

1.     Acara silaturrahmi akan dilaksanakan di Sekeretariat IKAS dengan memasang tenda di depan halaman secretariat;
2.    
           Waktu pelaksanaan acara silaturrahmi adalah malam Sabtu tanggal 11 November 2011 dengan mengundang Pangeran, Penghulu, Pengurus IKAS, Petugas keamanan Polsek Baiturrahman dan Banda Raya, Apara Gampong Lhoong Cut dan Sebagian Warga IKAS;
3.     Para undangan akan diberikan undangan, sementara pengurus akan diberitahukan dengan sms dari Humas
4.       Format acara adalah santai dengan menikmati menu kambing guling, pempek dan kopi duren
5.       Estimasi biaya yang diperlukan sekitar Rp. 2.500.000.-
6.       Penanggungjawab dalam kegiatan:
·         Undangan akan dicetak oleh Sekretaris dan disebar oleh Humas;
·         Kambing akan dibeli atas sumbangan Donatur dari Intern IKAS (diatur oleh pasirah dan Ilham)
·         Bagian penyembelihan dan pengulitan kambing dilaksanakan oleh Pasirah
·         Bagian pengolahan kambing guling akan diurus Humas untuk menghubungi pihak yang ahli di bidang pengolahan, pemasakan, dan bumbu-bumbu kambing guling;
·         Tenda dan kursi sebanya + 50 buah akan diusahakan dengan menyewa tenda dari inventaris gampong Lhoong Cut atau Lhoong Raya  (tanggung jawab Humas)
·         Meja  bulat secukupnya dipinjam kepada Kodam (tanggungjawab Divisi perlengkapan)
·         Piring, sendok dan perlengkapan makan (tanggungjawab secretariat berkoordinasi dengan ibu Pasirah)
7.       Pendanaan:
·         Pembelian kambing, + Rp. 1.500.000.-
·         Biaya untuk bumbu, alat masak dan juru masak kambing guling   + Rp. 200.000.-
·         Pengadaan Pempek 50 porsi  + Rp. 300.000.-
·         Beras dan aqua gelas  + Rp. 150.000.-
·         Sewa tenda gampong  + Rp. 150.000.-
·         Biaya cadangan  + Rp. 200.000.-
8.       Sumber dana :
·         Donasi intern
·         Kas organisasi IKAS

Sedangkan mengenai acara Fun bike yang akan diadakan sekitar minggu terakhir bulan November disepakati akan dibahas pada saat satu minggu menjelang acara akan dilaksanakan.

Rapat selesai pada pukul 22.30 dan ditutup oleh Pesirah.

Banda Aceh,  7 November 2011



OPEN HOUSE IDUL ADHA DI RUMAH PANGERAN

Pangeran IKAS gelar open house dalam rangka idul adha1432 H.

Dengan santapan utama pempek Palembang, Pangeran IKAS (Kapolda Aceh) menjamu setiap tamu yang datang bersilaturrahmi ke rumah beliau dalam rangka idul adha. Menurut Humas IKAS Drs. Ahmad Fikri, semula Pangeran tidak punya rencana utuk menggelar open house di rumah beliau pada lebaran haji tahun ini melainkan hanya berencana akan mengundang sebagian pejabat Polda dan Pengurus IKAS untuk ber "kopi duren" pada malam senin setelah lebaran. Namun, rencana tersebut secara mendadak berubah, sehingga dengan persiapan dalam waktu yang terbatas Pangeran menghendaki digelar open house pada hari pertama lebaran. Akhirnya "tim sukses" acara open house agak sedikit kalang kabut, kendati demikian seolah udah terbiasa mendapat tugas dadakan tim sukses yang di antaranya HUMAS IKAS sendiri dengan sigap berhasil mengemas acara yang cukup meriah tersebut.


 
Hadir pada acara open house tersebut sebagian pengurus IKAS, termasuk Penghulu, Pasirah dan Wakil Pasirah, Sekretaris dan wagra IKAS lainnya. Sementara sebagian yang tidak sempat hadir disebabkan karena pemberitahuannya mendadak dan ada pula yang memang sudah punya agenda lain. Selain itu acara yang dimeriahkan alunan hiburan "keyboard" yang dikomandoi oleh Ibunda Herlina Efendi Iskandar yang tak lain daripada Nyonya Pangeran tersebut juga diramaikan dengan adanya "serbuan" mendadak dari kolega Pangeran di tanah rencong yakni Bapak Pangdam IM beserta pasukannya yang datang menggunakan bus, sehingga acara semakin meriah. Tak hanya itu tak ketinggalan pula mantan Kakanwil Kemenag Aceh beserta sejumlah pejabat-pejabat di lingkungan Pemerintah Aceh lainnya.



Pangeran berserta keluarga mengucapkan Selamat hari raya idul adha 1432 hijriah, semoga kita semakin dapat selalu mendekatkan diri kepada Allah swt. amin.  (by: Humas @2011)

 

Selasa, 25 Oktober 2011

Artikel Dzulhijjah

PUASA DI SEPULUH PERTAMA DZULHIJJAH
Oleh:  M. ARQOM PAMULUTAN, M.A.
(Sekretaris II IKAS/Hakim Mahkamah Syar’iyah Jantho)
            Bulan Dzulhijjah merupakan bulan ke dua belas dalam hitungan bulan qomariyah. Sesuai dengan namanya, bulan ini diartikan sebagai bulan haji. Hal itu karena hanya di bulan ini sajalah menjadi waktu untuk pelaksanaan ritual paling istimewa bagi umat manusia penerus ajaran Nabiyullah Ibrahim AS., termasuk umat Islam berupa ziarah ilahiyah memenuhi panggilan Allah SWT menuju baitullah yang lazim disebut haji. Ibadah ini menjadi istimewa karena ia merupakan momen pertemuan akbar bagi berjuta-juta umat Islam di seluruh dunia di suatu tempat yang sama, pada waktu  yang sama, dengan berbusana yang sama dan untuk kerinduan yang sama.
Bagi umat Islam di Indonesia ibadah menjadi bertambah istimewa karena sepulangnya dari haji mereka mendapatkan titel bergengsi yang melekat di depan namanya sebagai “Pak Haji,” atau “Bu Hajjah” yang titel tersebut tidak pernah didapatkan dari ibadah-ibadah lainnya yang wajib sekalipun seperti shalat, zakat, puasa ataupun jihad di jalan Allah. Hal ini karena tidak pernah terdengar di Indonesia ada orang yang bertitel “Pak Shalat” karena sering melakukan shalat, ataupun “Bu Zakat” karena selalu berzakat.
            Selain ibadah haji, terdapat pula hal lain yang membuat bulan ini istimewa, yaitu adanya hari idul adha atau hari raya qurban. Yaitu hari yang dijadikan Allah untuk membesarkan nama-Nya sekaligus mengenang sebuah peristiwa fenomenal sepanjang sejarah umat manusia yakni kerelaan seorang Ibarahim AS. menyembelih anak kesayangannya demi ketaatan kepada Allah SWT. Peristiwa mana akhirnya dijadikan titik awal pensyariatan ibadah qurban yang dilakukan pada hari ke 10, 11, 12 dan 13 bulan tersebut. Dan,  kegiatan spiritual istimewa yang penulis sebutkan di atas ternyata terjadi hanya pada awal bulan Dzulhijjah saja, tidak di waktu lainnya.
            Bagi separuh umat Islam yang berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji, merayakan idul qurban sekaligus menjalankan ibadah qurban, sungguh merupakan suatu kebahagiaan yang tak terkira. Karena dengan itu di samping mereka telah menyahuti panggilan Allah sebagai tanda bakti kepada-Nya bagi mereka juga telah dijanjikan pahala yang berlipat ganda di sisi-Nya. Lalu, bagaimana pula halnya bagi mereka yang tidak, atau belum diberi kesempatan untuk berhaji ataupun berkurban…? Adakah mereka tidak berhak mendapatkan kebahagiaan yang sama, atau tidak adakah jalan bagi mereka untuk mewujudkan tanda bakti yang sama dan memperoleh pahala yang tidak kalah besarnya di sisi Tuhan mereka…?
            Jawabnya tentu tidak, karena meskipun seorang muslim pada awal bulan Dzulhijjah tidak berkesempatan beribadah haji atau tidak mampu menyediakan hewan qurban untuk disembelih, seorang muslim dapat juga mewujudkan baktinya dengan menjalankan ibadah istimewa lainnya, di antaranya ibadah puasa sunnat di awal bulan Dzulhijjah. Ibadah puasa dalam bentuk menahan dari dari makan, minum dan berhubungan suami istri pada siang hari ini konon merupakan salah satu bentuk ibadah tertua sekaligus menjadi ibadah termurah yang pernah disyariatkan Allah kepada hamba-Nya. Namun demikian, meskipun murah bagi sebagian orang ibadah ini dianggap sebagai ibadah yang berat dan sulit dilaksanakan.     
              Wahbah al-Zuhayli, dalamkitab al-Fiqh al-Islamy wa adillatuhu, vol. 1 hlm. 587-589 menyebutkan bahwa salah satu di antara puasa sunnah yang disyariatkan dalam Islam adalah puasa hari ‘arafah (9 Dzulhijjah) bagi orang yang tidak berhaji dan puasa selama 8 hari di bulan Dzulhijjah sebelum hari ‘arafah bagi yang berhaji maupun yang tidak berhaji. Sementara Sayyid Sabiq, dalam Fiqh al-Sunnah, vol. 1 halm. 316 menerangkan bahwa disunatkan bagi umat Islam untuk berpuasa pada hari “’asyr” atau hari sepuluh di bulan Dzulhijjah, yakni tanggal 1 s.d. 9 dan menguatkan anjuran puasa tersebut pada hari ‘arafah khusus bagi yang tidak berhaji. Pendirian kedua pakar fiqih modern ini berlandaskan pada hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ahmad dan al-Nasa’i dari Hafshah ra. yang berbunyi: “Empat perkara yang tidak ditinggalkan oleh Rasulullah SAW, yaitu puasa hari asyura, al-‘Asyr (sepuluh hari di bulan Dzulhijjah), tiga hari dalam setiap bulan dan shalat dua raka’at sebelum subuh.”   
            Keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah ini juga yang disebut dalam al-Qur’an surat al-Fajr ayat 2 di mana pada ayat itu Allah bersumpah yang bunyinya “wa layalin ‘asyar.” yang artinya “dan (demi) malam yang sepuluh.” Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam “Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim” jilid 14 hlm. 348 dengan bersandar kepada pendapat Ibnu Abbas, Ibnu al-Zubayr, Mujahid dan tidak sedikit ulama lainnya yang berdasarkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas (lihat: Shahih Bukhari dalam kitab tentang Dua hari raya, hadits No. 969) yang penggalan haditsnya berbunyi: “Tidak ada hari-hari untuk beramal shalih yang lebih dicintai Allah selain hari-hari (sepuluh pertama Dzulhijjah) ini. … dst.”
            Adapun mengenai ibadah puasa sunnat pada awal bulan Dzulhijjah ini, penulis akan kutipkan apa yang penulis dengar dari ceramah seorang Profesor Hukum Islam di Bale pengajian mingguan di Krueng Barona Jaya Aceh Besar tempat di mana setiap hari Ahad penulis selalu diundang untuk menghadirinya yang mengutip apa yang tertulis dalam kitab Durrat al-Nashihin (mutiara bagi para pemberi nasihat) tentang keutamaan puasa di hari-hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut, yaitu: Pertama, Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW., bahwa sesungguhnya beliau bersabda : “hari saat mana Allah mengampuni Nabi Adam as., adalah hari pertama bulan dzulhijjah. Barang siapa berpuasa pada hari itu maka Allah mengampuni dosanya.” Kedua, pada hari kedua Dzulhijjah, Allah telah mengabulkan doa nabi yunus as. dan mengeluarkannya dari perut ikan. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka seperti orang yang beribadah kepada Allah ta’aala selama satu tahun serta tidak mendurhakai Allah dalam ibadahnya meskipun sekejap mata. Ketiga, pada hari ketiga Dzulhijjah, Allah telah mengabulkan doa Nabi Zakaria AS. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah mengabulkan doanya. Keempat, pada hari keempat Dzulhijjah, Nabi Isa AS. dilahirkan. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah meniadakan atau menghilangkan kesusahannya dan kefakirannya, dan dia besok pada hari qiamat akan bersama dengan orang-orang yang baik-baik dan yang mulia. Kelima, pada hari kelima, Nabi Musa AS. Dilahirkan, Barangsiapa berpuasa pada hari itu, maka dia bebas dari siksa kubur. Keenam, pada hari kekenam, Allah SWT membuka kebaikan untuk nabi-Nya. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah memperhatikan kepadanya dengan kasih sayang dan dia tidak disiksa sesudah itu. Ketujuh, pada hari ketujuh, semua pintu-pintu neraka jahannam ditutup dan tidak dibuka sehingga berlalu hari-hari yang sepuluh itu. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah akan menghindarkan dari padanya tiga puluh pintu kesukaran dan membukakan baginya tiga puluh pintu kemudahan. Kedelapan, pada Hari ke delapan, dinamakan hari “tarwiyah.” Barang siapa yang berpuasa pada hari itu, maka dia diberi pahala yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala sendiri dan kesembilan, Pada hari hari kesembilan, dinamakan hari arafah. Barang siapa berpuasa pada hari itu maka sebagai tebusan dosanya pada tahun yang telah lewat dan yang akan datang. Dan pada hari itu juga telah diturunkan ayat : “Pada hari ini telah Aku sempurnkan bagi kalian akan agama kalian, telah Aku sempurnakan pula nikmat-Ku untuk kalian dan Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian”
            Melalui tulisan ini, penulis bermaksud mengingatkan kita semua, bahwa ada beragam cara untuk mengimplementasikan bakti seorang hamba kepada Allah di bulan Dzulhijjah yang mulia ini, tidak hanya menjalankan ibadah haji dan menyembelih qurban semata yang tentunya berat bagi sebagian kita yang saat ini dalam kondisi keuangan yang terbatas. Di anatara ibadah itu adalah berpuasa sunnat pada hari-hari pertama bulan haji yang “murah meriah” tapi besar nilai kebaikannya di sisi Allah SWT. Kiranya tulisan sederhana ini bermanfaat, amin. Wallahua’lam.            



Jumat, 21 Oktober 2011

Berita dari Tribunnews Aceh


Kapolda Resmikan Sekretariat IKAS Aceh
Jumat, 21 Oktober 2011 10:14 WIB

BANDA ACEH - Kapolda Aceh Irjen Pol Iskandar Hasan, Kamis (20/10) meresmikan Sekretariat Ikatan Keluarga Andalas Selatan (IKAS) Aceh, di Jalan Malikul Saleh No 4, Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh. Iskandar Hasan dinobatkan sebagai Pangeran --panggilan untuk pimpinan tertinggi-- organisasi itu.

Iskandar Hasan mengatakan, organisasi tersebut anggotanya adalah masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel), Bangka Belitung (Babel), Jambi, Lampung, dan Bengkulu, yang sudah tinggal atau merantau ke Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Peresmian kantor itu kemarin, dihadiri sekitar 300 pengurus dan anggota IKAS Aceh.

Usai peresmian sekretariat dilanjutkan pemberian modem, hp bundling, dan kartu khusus XL Komunitas secara simbolis kepada Pangeran IKAS Aceh, yang diserahkan RSOM XL Aceh, Ilham Reza Pahlevi. Acara ditutup dengan makan bersama dan silaturrahmi antaranggota.(c47)

repro: www.tribunnesw.